Update Harga Komoditas â Sabtu, 11 Juli 2026
**
đ Update Harga Komoditas â Sabtu, 11 Juli 2026
Batu Bara, Emas, Perak, Minyak Mentah, CPO, Nikel â Pergerakan Pekan Ini
Oleh Andre Finance | 11 Juli 2026
đ Tabel Perbandingan Harga
Komoditas Harga Saat Ini Perubahan Pekan Perubahan (Sebulan) Sentimen
Batu Bara US$ 128,60/ton đģ -1,04% (harian) đģ -14,81% Bearish
Emas US$ 4.121,05/oz đģ -1,5% (mingguan) đģ -2,18% Bearish
Perak US$ 59,85/oz đģ -4% (mingguan) đģ -11,12% Bearish
Minyak Mentah US$ 71,51/barel đĸ +4% (mingguan) đģ -18,47% Mixed
CPO (Minyak Sawit) MYR 4.513/ton đģ -1,76% đģ -0,84% Bearish
Nikel US$ 16.655/ton đĸ +0,30% đģ -6,41% Mixed
Data per 10 Juli 2026 (penutupan Jumat). Sumber: Trading Economics, LME, Bursa Malaysia.
đš 1. Batu Bara â US$ 128,60/ton (đģ -1,04%)
Harga Terkini: Batu bara acuan (Newcastle) ditutup di US$ 128,60 per ton pada 10 Juli 2026, turun 1,04% dari hari sebelumnya dan melemah 14,81% dalam sebulan terakhir. Meski demikian, secara tahunan harga masih lebih tinggi 15,86%.
Faktor Pendorong:
Permintaan India Lesu: India sebagai konsumen batu bara terbesar kedua dunia mengurangi impor karena rupee melemah dan produksi domestik meningkat. Utilitas India memperpanjang upaya substitusi impor dengan stok domestik yang tinggi.
China: Permintaan dari China relatif stabil, namun tidak cukup kuat untuk mendorong reli.
HBA Indonesia (ESDM): Pemerintah RI menetapkan HBA kalori tinggi (6.322 kcal/kg) sebesar US$ 121,83/ton untuk periode pertama Juni 2026, turun dari US$ 116,32/ton di periode kedua Mei 2026. HBA kalori rendah (3.400 kcal/kg) di US$ 40,32/ton.
Ketegangan AS-Iran: Eskalasi di Timur Tengah mendorong harga LNG lebih tinggi, yang secara tidak langsung menopang permintaan batu bara dari Jepang dan Korea sebagai substitusi.
Prospek Pekan Depan: Harga batu bara diperkirakan berkisar di US$ 125â132/ton. Permintaan musim panas dari China dan Jepang dapat memberikan support, namun kelebihan pasokan global masih menjadi tekanan. Target Trading Economics: US$ 130,71/ton akhir kuartal.
đš 2. Emas â US$ 4.121,05/oz (đģ -1,5% mingguan)
Harga Terkini: Emas ditutup di US$ 4.121,05 per ons troi pada 10 Juli 2026, turun tipis 0,06% harian dan melemah 1,5% dalam sepekan. Dalam sebulan terkoreksi 2,18%, namun secara tahunan masih melesat 22,77%.
Faktor Pendorong:
DXY (Indeks Dolar AS): Dolar AS menguat seiring ekspektasi The Fed yang hawkish, menekan harga emas.
The Fed: Notulen FOMC Juni menunjukkan kekhawatiran inflasi yang meningkat. Probabilitas kenaikan suku bunga pada September 2026 mencapai ~60%. Sikap hawkish ini menjadi sentimen negatif utama bagi emas.
Ketegangan AS-Iran: Minyak melonjak 5% minggu ini karena konflik, memicu kekhawatiran inflasi dan sikap The Fed yang lebih agresif.
Permintaan Fisik: Bank sentral China menambah cadangan emas terbesar dalam 2,5 tahun pada Juni 2026 â menjadi katalis positif jangka panjang. India mengalami diskon besar karena volatilitas harga.
Safe Haven: Meski ketegangan geopolitik meningkat, penguatan dolar dan prospek suku bunga tinggi menekan minat safe haven ke emas.
Prospek Pekan Depan: Pasar menanti data inflasi AS pekan depan dan kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh. Jika inflasi mendingin, emas berpeluang rebound ke US$ 4.200+. Target Trading Economics: US$ 4.211/oz akhir kuartal, dan US$ 4.505 dalam 12 bulan.
đš 3. Perak â US$ 59,85/oz (đģ -4% mingguan)
Harga Terkini: Perak jatuh ke US$ 59,85 per ons troi pada 10 Juli 2026, terkoreksi 4% dalam sepekan dan 11,12% dalam sebulan. Secara tahunan masih perkasa dengan kenaikan 55,70%.
Faktor Pendorong:
Korelasi dengan emas: perak ikut tertekan prospek suku bunga tinggi.
Permintaan industri melemah karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Secara historis, perak lebih volatil daripada emas â koreksi bulanan 11% masih dalam rentang wajar pasca reli signifikan tahun ini.
Prospek Pekan Depan: Support di US$ 57â58/oz. Katalis positif dari permintaan panel surya dan elektronik. Target Trading Economics: US$ 63,74/oz akhir kuartal, US$ 74,61 dalam 12 bulan.
đš 4. Minyak Mentah â ~US$ 71,51/barel (đĸ +4% mingguan)
Harga Terkini: Minyak mentah (Brent/WTI acuan) ditutup di US$ 71,51 per barel pada 10 Juli 2026, turun 0,79% harian tetapi mencatat kenaikan mingguan sekitar 4%. Dalam sebulan minyak masih terkoreksi tajam 18,47%, namun secara tahunan naik 4,47%.
Faktor Pendorong:
Geopolitik AS-Iran: Konflik bersenjata kembali terjadi antara AS dan Iran. Selat Hormuz â jalur kritis 20% perdagangan minyak & gas global â mengalami gangguan signifikan. Sebuah kapal tanker LNG diserang Iran, memicu kekhawatiran pasokan.
OPEC+: Kebijakan produksi masih menjadi sorotan. IEA memperingatkan bahwa ketegangan berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan pasar minyak global.
Premi Risiko: Harga minyak masih mengandung premi risiko geopolitik yang signifikan. Pembicaraan teknis AS-Iran masih berlangsung, menahan potensi kenaikan lebih lanjut.
Permintaan Global: Kekhawatiran resesi global membatasi kenaikan harga meskipun ada gangguan pasokan.
Prospek Pekan Depan: Minyak diperkirakan volatile dengan rentang US$ 68â75/barel. Jika konflik mereda, premi risiko bisa turun cepat. Jika eskalasi berlanjut, US$ 75+ terbuka. Target Trading Economics: US$ 75,52 akhir kuartal, US$ 85,79 dalam 12 bulan.
đš 5. CPO (Minyak Sawit) â MYR 4.513/ton (đģ -1,76%)
Harga Terkini: CPO Malaysia ditutup di MYR 4.513 per ton pada 10 Juli 2026, turun 1,76% harian. Dalam sebulan melemah 0,84%, namun secara tahunan masih naik 8,10%.
Faktor Pendorong:
Persediaan Meningkat: MPOB melaporkan stok CPO Malaysia Juni naik 4,8% ke level tertinggi 4 bulan, sementara produksi naik 8,1% karena musim panen.
Permintaan India Turun: Impor CPO India jatuh ke level terendah 14 bulan pada Juni karena konsumsi lesu dan diskon harga yang menyempit terhadap minyak nabati lain.
Ringgit Menguat: Penguatan mata uang Malaysia menekan harga CPO dalam MYR.
Katalis Positif: Mandat B50 biodiesel Indonesia diperkirakan mendorong konsumsi CPO domestik menjadi 16,3â17 juta ton di 2026, naik dari 15,2 juta ton sebelumnya.
Harga Referensi Indonesia: Pemerintah RI menetapkan harga referensi CPO Juli 2026 sebesar US$ 1.000,90/MT, turun 2,78% dari Juni (US$ 1.029,51/MT). Bea keluar disesuaikan.
Ekspor CPO 1â5 Juli 2026 naik 10,6â11,1% dibanding periode sama Juni.
Prospek Pekan Depan: Support di MYR 4.450â4.500. Katalis dari mandat biodiesel Indonesia dan data ekspor penuh 10 hari. Target Trading Economics: MYR 4.615 akhir kuartal, MYR 4.847 dalam 12 bulan.
đš 6. Nikel â US$ 16.655/ton (đĸ +0,30%)
Harga Terkini: Nikel LME ditutup di US$ 16.655 per ton pada 10 Juli 2026, naik tipis 0,30% harian. Dalam sebulan turun 6,41%, tetapi secara tahunan masih naik 9,32%.
Faktor Pendorong:
Kelebihan Pasokan Indonesia: Pemerintah RI dikabarkan mempertimbangkan menaikkan kuota tambang nikel 2026 menjadi ~360 juta ton dari ~260 juta ton â pembalikan kebijakan pembatasan produksi sebelumnya.
Produksi Hilir: Nickel Industries memperluas kapasitas HPAL di pabrik Excelsior Nickel Cobalt, meningkatkan ekspektasi output nikel ke depan.
Stok LME & SHFE Tinggi: Persediaan nikel olahan melimpah, membatasi pemulihan harga.
Permintaan Baterai EV: Industri baterai kendaraan listrik tetap menjadi katalis jangka panjang, namun pertumbuhan permintaan belum cukup cepat untuk menyerap kelebihan pasokan.
HMA Nikel Indonesia: Harga Mineral Acuan nikel untuk Juli 2026 P1 ditetapkan di US$ 17.593,33/wmt, turun signifikan dari US$ 18.642,33/wmt pada Juni P2.
Prospek Pekan Depan: Harga nikel berpotensi tertekan ke US$ 16.000â16.300 jika kuota tambang benar-benar dinaikkan. Support kuat di US$ 15.800. Target Trading Economics: US$ 16.540 akhir kuartal, US$ 17.582 dalam 12 bulan.
đ Prospek Pekan Depan â Ringkasan
Komoditas Prospek Pekan Depan Rentang Sentimen
Batu Bara Sideways â tertekan pasokan tinggi, ditopang permintaan musim panas US$ 125â132 âŦī¸ Bearish
Emas Potensi rebound jika data inflasi AS mendingin US$ 4.050â4.200 đ Mixed
Perak Tekanan jual, butuh katalis positif US$ 57â62 âŦī¸ Bearish
Minyak Mentah Volatile tinggi tergantung konflik AS-Iran US$ 68â76 đ Mixed
CPO Tertekan stok tinggi, ditopang biodiesel MYR 4.450â4.600 âŦī¸ Bearish
Nikel Tekanan dari potensi kenaikan kuota RI US$ 16.000â17.000 âŦī¸ Bearish
⥠Faktor Makro Utama yang Perlu Dipantau
Konflik AS-Iran & Selat Hormuz: Gangguan jalur energi global â berdampak langsung ke minyak, LNG, dan batu bara.
Kebijakan The Fed: Probabilitas kenaikan suku bunga September ~60%. Inflasi AS masih menjadi perhatian utama.
Kebijakan Komoditas RI: Kuota nikel, mandat B50 biodiesel, HBA/HMA â berdampak langsung ke pasar global.
Permintaan China & India: Dua konsumen terbesar komoditas dunia menjadi penentu arah harga.
â ī¸ Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan rekomendasi investasi atau ajakan untuk membeli/menjual aset tertentu. Seluruh data harga merupakan data pasar terbuka yang dapat berubah sewaktu-waktu. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan investasi. Andre Finance tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari keputusan berdasarkan informasi dalam artikel ini.
Ikuti terus update harga komoditas setiap pekan hanya di Andre Finance â sumber informasi pasar terkini untuk investor Indonesia.