Berita Pasar

Update Harga Komoditas — Sabtu, 18 Juli 2026: Batu Bara, Emas, Perak, Minyak, CPO, Nikel — Pergerakan Pekan Ini

â€ĸ â€ĸ đŸ‘ī¸ 1 dibaca â€ĸ â€ĸ

📊 Tabel Perbandingan Harga Komoditas Pekan Ini

Komoditas Harga Saat Ini Pekan Lalu Perubahan Pekan Sentimen

Batu Bara (HBA Kalori Tinggi 6.322 GAR) USD 131,85/ton USD 126,58/ton ▲ +4,16% 😊 Bullish

Batu Bara (HBA I 5.300 GAR) USD 89,90/ton USD 87,15/ton ▲ +3,16% 😊 Bullish

Emas (XAU/USD) USD 4.016,95/oz USD 4.145/oz â–ŧ -3,09% 😐 Netral

Perak (XAG/USD) USD 55,90/oz USD 62,13/oz â–ŧ -10,02% 😟 Bearish

Minyak Brent USD 88,09/barel USD 76,01/barel ▲ +15,89% đŸ”Ĩ Sangat Bullish

Minyak WTI USD 82,47/barel USD 74,69/barel ▲ +10,42% đŸ”Ĩ Sangat Bullish

CPO (Harga Referensi) USD 1.000,90/MT USD 1.029,51/MT â–ŧ -2,78% 😐 Netral

Nikel (LME) USD 17.045/ton USD 17.110/ton â–ŧ -0,38% 😐 Netral

1. đŸ”Ĩ Batu Bara — Menguat di Semua Kategori

Harga Acuan (HBA) Periode II Juli 2026:

  • Kalori Tinggi 6.322 GAR: USD 131,85/ton (▲ +4,16% dari periode I Juli di USD 126,58/ton)

  • HBA I (5.300 GAR): USD 89,90/ton

  • HBA II (4.100 GAR): USD 63,25/ton

  • HBA III (3.400 GAR): USD 45,08/ton

Faktor Pendorong:

  • ✅ Permintaan China dan India tetap kuat — kedua negara importir utama terus meningkatkan pembelian batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik yang melonjak akibat musim panas.

  • ✅ Kebijakan pasokan global — produksi dari negara-negara produsen utama masih terbatas, sementara transisi energi di beberapa negara maju justru mengurangi investasi tambang baru.

  • ✅ Kenaikan HMA (Harga Mineral Acuan) — Kementerian ESDM juga menaikkan harga acuan mineral lainnya yang turut mendorong sentimen positif sektor tambang.

Prospek Pekan Depan: 🔮 Harga batu bara diperkirakan tetap bertahan di level tinggi. Permintaan dari China diperkirakan masih solid seiring musim panas yang mendorong konsumsi listrik. Namun, perlu diwaspadai potensi koreksi jika negara-negara tujuan ekspor mulai memperketat kebijakan impor.

2. đŸĨ‡ Emas — Tertekan Sinyal Hawkish The Fed

Harga Terkini: USD 4.016,95 per troy ounce (per 17 Juli 2026, ▲ +1,03% harian, â–ŧ -3,09% mingguan)

Faktor Pendorong:

  • ✅ Safe Haven — meningkatnya ketegangan AS-Iran memberikan support harga emas sebagai aset lindung nilai.

  • ❌ The Fed Hawkish — Presiden Fed Dallas Lorie Logan menyerukan kenaikan suku bunga lanjutan, sementara Wakil Ketua Fed Philip Jefferson mendukung kebijakan yang lebih ketat. Pasar memperkirakan 50% kemungkinan kenaikan suku bunga pada September 2026.

  • ❌ DXY Menguat — Indeks Dolar AS (DXY) masih perkasa di tengah prospek suku bunga tinggi, memberi tekanan balik pada emas.

  • ✅ Data Inflasi AS Turun — Harga konsumen dan produsen AS turun pada Juni, memberi sedikit ruang bagi emas untuk rebound.

Prospek Pekan Depan: 🔮 Emas masih akan bergerak volatil antara support USD 3.950 dan resistance USD 4.100. Jika konflik AS-Iran semakin memanas, emas bisa kembali menguji level USD 4.200. Namun, sikap hawkish The Fed membatasi potensi kenaikan jangka pendek. Target 12 bulan: USD 4.501/oz.

3. âšĒ Perak — Koreksi Dalam, Tertekan Suku Bunga Tinggi

Harga Terkini: USD 55,90 per troy ounce (per 17 Juli 2026, ▲ +0,73% harian, â–ŧ -10,02% mingguan)

Faktor Pendorong:

  • ❌ Ekspektasi Suku Bunga Tinggi — sama seperti emas, perak tertekan oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed. Ini merupakan level terendah sejak akhir November 2025.

  • ❌ Penurunan Permintaan Industri — perlambatan sektor manufaktur global menekan permintaan perak untuk keperluan elektronik dan panel surya.

  • ✅ Dalam sebulan terakhir turun 14,86% — namun secara tahunan masih naik 46,45%, menunjukkan potensi technical rebound.

Prospek Pekan Depan: 🔮 Perak diperkirakan bergerak di kisaran USD 53-58/oz. Jika The Fed memberikan sinyal dovish, perak bisa bangkit lebih cepat dibanding emas karena basis yang lebih rendah. Target kuartal ini: USD 62,69/oz. Target 12 bulan: USD 73,50/oz.

4. đŸ›ĸī¸ Minyak Mentah — Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

Harga Terkini:

  • Brent Crude: USD 88,09/barel (▲ +4,58% harian, ▲ +15,89% mingguan)

  • WTI Crude: USD 82,47/barel (▲ +4,46% harian, ▲ +10,42% mingguan)

Faktor Pendorong:

  • đŸ”Ĩ Konflik AS-Iran Meningkat Drastis — Iran meluncurkan serangan terhadap target AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Suriah sebagai balasan atas serangan militer AS. Serangan berlangsung 6 malam berturut-turut.

  • đŸ”Ĩ Gangguan Selat Hormuz — lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz (jalur transit 20% minyak dunia) tetap terbatas. AS mengembalikan blokade angkatan laut di pelabuhan Iran dekat Selat Hormuz.

  • đŸ”Ĩ Ancaman Laut Merah — Iran menginstruksikan Houthi untuk mengganggu pengiriman di Laut Merah jika AS menarget infrastruktur listrik Iran.

  • ✅ OPEC+ — kebijakan produksi yang restriktif dari OPEC+ turut mendukung harga di tengah ketidakpastian geopolitik.

Prospek Pekan Depan: 🔮 Minyak sangat bergantung pada eskalasi konflik AS-Iran. Jika gencatan senjata tercapai, koreksi tajam bisa terjadi (Brent ke USD 78-80). Namun jika konflik meluas, Brent berpotensi menembus USD 95-100/barel. Situasi geopolitik membuat prediksi sangat sulit.

5. 🌴 CPO (Crude Palm Oil) — Melemah di Tengah Lesunya Permintaan Global

Harga Referensi Juli 2026: USD 1.000,90 per metrik ton (â–ŧ -2,78% dari Juni: USD 1.029,51/MT)

Detail Tarif Terbaru:

  • Bea Keluar (BK) CPO: USD 148/MT

  • Pungutan Ekspor (PE) BPDP: 12,5% dari HR ≈ USD 125,11/MT

  • Harga acuan berdasarkan rata-rata 20 Mei – 19 Juni 2026 dari Bursa CPO Indonesia (USD 890,84/MT), Bursa CPO Malaysia (USD 1.110,97/MT), dan Rotterdam (data tidak lengkap).

Faktor Pendorong:

  • ❌ Pelemahan Permintaan India — India sebagai importir utama CPO dunia mengurangi pembelian, memberi tekanan signifikan pada harga.

  • ❌ Tekanan Harga Minyak Nabati Lain — penurunan harga minyak kedelai dan minyak bunga matahari ikut menekan harga CPO.

  • ✅ Harga minyak mentah naik tajam — kenaikan minyak mentah minggu ini bisa memberikan support tidak langsung untuk minyak nabati sebagai substitusi energi.

Prospek Pekan Depan: 🔮 CPO diperkirakan bertahan di kisaran USD 980-1.020/MT. Permintaan dari India dan China pasca-Ramadan masih belum pulih sepenuhnya. Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik Timur Tengah bisa membantu menopang harga, namun sentimen bearish masih dominan dalam jangka pendek.

6. 🔩 Nikel — Stabilisasi di Tengah Ketidakpastian Pasokan

Harga Terkini (LME): USD 17.045 per ton (per 17 Juli 2026, â–ŧ -0,38% harian, â–ŧ -4,16% bulanan, ▲ +11,81% year-on-year)

Harga Mineral Acuan (HMA) Juli Periode 1: USD 17.593,33/wmt (turun USD 1.049/wmt dari Juni P2: USD 18.642,33/wmt)

Faktor Pendorong:

  • ✅ Kebijakan Pasokan Indonesia — Indonesia menegaskan tidak akan menyetujui perluasan luas kuota produksi nikel. Persetujuan tambahan hanya diberikan pada smelter yang menghadapi kekurangan bahan baku, mencegah kelebihan pasokan.

  • ❌ Permintaan Lesu — perdagangan nikel pig iron (NPI) kualitas tinggi masih sepi, pengisian kembali di hilir redup, dan harga bijih nikel terus melemah karena persediaan melimpah.

  • ✅ Dukungan dari Harga Minyak — kenaikan harga minyak menjaga kekhawatiran pasokan belerang (input kunci industri pengolahan nikel Indonesia), memberikan support tambahan.

Prospek Pekan Depan: 🔮 Nikel diperkirakan bergerak sideways di kisaran USD 16.800-17.200/ton. Kebijakan restriktif Indonesia terhadap kuota produksi menjadi katalis positif, namun permintaan dari sektor stainless steel dan baterai EV masih perlu pemulihan lebih lanjut. Target kuartal ini: USD 16.956/ton. Target 12 bulan: USD 18.036/ton.

📋 Ringkasan Prospek Pekan Depan

Komoditas Sentimen Prospek

Batu Bara Bullish ▲ Bertahan tinggi, permintaan China/India kuat

Emas Netral â¸ī¸ Volatil, support USD 3.950, resistance USD 4.100

Perak Bearish â–ŧ Potensi rebound teknikal, support USD 53

Minyak Brent/WTI Sangat Bullish đŸ”Ĩ Tergantung eskalasi Timur Tengah, potensi USD 95+

CPO Netral â¸ī¸ Support USD 980, recovery butuh permintaan India

Nikel Netral â¸ī¸ Sideways USD 16.800-17.200, kebijakan Indonesia kunci

🌏 Sorotan Pasar Pekan Ini

Beberapa peristiwa penting yang memengaruhi pergerakan komoditas pekan ini:

  • Eskalasi Konflik AS-Iran — Serangan balasan Iran ke pangkalan AS di 6 negara Timur Tengah dan gangguan Selat Hormuz menjadi katalis utama kenaikan harga minyak lebih dari 14% dalam sepekan.

  • Sikap Hawkish The Fed — Pejabat The Fed terus mendorong kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi tidak membaik, menekan harga emas dan logam mulia.

  • Data Inflasi AS Juni 2026 — Harga konsumen dan produsen AS turun, terutama karena biaya energi yang lebih rendah, namun harga impor naik tak terduga.

  • Harga Pangan Domestik — Sejumlah komoditas pangan seperti beras, cabai rawit, daging ayam, dan telur ayam ras kompak naik pada akhir pekan ini.

âš ī¸ Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi semata. Seluruh data harga merupakan data pasar terbuka yang dikumpulkan dari berbagai sumber terpercaya, termasuk Trading Economics, Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, dan LME. Artikel ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau ajakan untuk membeli/menjual instrumen keuangan apa pun. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab masing-masing individu. Harga komoditas bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan advisor profesional sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber Data: Trading Economics, Kementerian ESDM RI, Kementerian Perdagangan RI, LME, BAPPEBTI, Okezone, Liputan6, Nikel.co.id, Infosawit, Metro TV News.

📅 Update: Sabtu, 18 Juli 2026 — Andre Finance

Bagikan: Twitter WhatsApp

đŸ’Ŧ Komentar

0 komentar
0/500
âŗ Memuat komentar...