Berita Pasar

Update Kurs Rupiah — Kamis, 9 Juli 2026: USD, EUR, JPY, SGD, MYR — Pergerakan Hari Ini

👁️ 2 dibaca

Jakarta, 9 Juli 2026 — Nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang utama dunia kembali menunjukkan pergerakan fluktuatif pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Berikut ringkasan kurs terkini berdasarkan data pasar spot dan kurs tengah Bank Indonesia.

🔴 Ringkasan USD/IDR

Rupiah dibuka melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data kursdollar.org pukul 09:10 WIB, USD/IDR berada di level Rp18.077, turun tipis 0,01% dari penutupan kemarin di Rp18.078. Sebelumnya, pada penutupan Rabu (8/7), rupiah tercatat melemah 0,19% ke level Rp18.014 per dolar AS.

Sepanjang tahun berjalan (YTD 2026), rupiah telah terdepresiasi sekitar 8,30% terhadap dolar AS, dari level awal tahun di Rp16.691 per USD. Rentang pergerakan YTD tercatat antara Rp16.700 hingga Rp18.158 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang cukup signifikan terhadap mata uang Garuda.

📊 Tabel Kurs Utama Hari Ini

Mata UangKurs Tengah (IDR)Change HarianSentimen

USD/IDRRp18.077-0,01% (stabil)⚠️ Bearish — Tertekan geopolitik & potensi downgrade S&P EUR/IDRRp20.573+0,14%📈 Bullish — Euro menguat meski DXY tinggi JPY/IDR (100 JPY)Rp11.099+0,14%📈 Bullish — Yen sebagai safe haven naik SGD/IDRRp13.939+0,12%📈 Bullish — Dolar Singapura stabil menguat MYR/IDRRp4.425+0,55%📈 Bullish — Ringgit menguat sejalan data ekonomi

Sumber: Kurs Tengah Bank Indonesia per 9 Juli 2026 & kursdollar.org

📌 Faktor Penggerak Rupiah

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah hari ini antara lain:

1. Indeks Dolar AS (DXY)

Indeks dolar AS sempat mencapai 101,18 — level tertinggi sejak 2 Juli 2026. Penguatan dolar dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik setelah AS melancarkan serangan baru terhadap Iran dan mencabut izin penjualan minyak Iran menyusul serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz. Hal ini mendorong permintaan aset safe haven seperti dolar AS.

2. Risalah Rapat The Fed (FOMC)

Pelaku pasar menantikan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis malam ini. Jika Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menunjukkan sikap hawkish, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan menekan rupiah.

3. Potensi Downgrade oleh S&P Dow Jones

Kabar bahwa S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watchlist) untuk potensi penurunan klasifikasi pasar ekuitas dari Emerging Market menjadi Frontier Market menambah kekhawatiran investor asing. Meskipun belum ada keputusan final, sentimen ini mendorong arus modal keluar dan menekan rupiah.

4. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Menurun

Survei menunjukkan penurunan signifikan pada Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia sepanjang Juni 2026. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa konsumsi rumah tangga — motor utama pertumbuhan ekonomi nasional — berpotensi melambat.

5. Harga Minyak Melonjak

Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah lebih tinggi. Sebagai negara importir minyak, kenaikan harga minyak menjadi tekanan tambahan bagi rupiah melalui pembengkakan biaya impor energi.

6. Arus Modal Asing (Capital Flow)

Arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia cenderung terbatas di tengah ketidakpastian global. Investor asing masih wait-and-see menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik.

📈 Dampak ke IHSG dan Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (7/7) ditutup menguat 1,19% ke level 5.986, hampir menembus level psikologis 6.000. Sebanyak 430 saham ditutup di zona hijau, dengan kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp10.489 triliun. Volume transaksi tercatat 22,36 miliar saham dengan nilai Rp10,39 triliun.

Namun demikian, potensi downgrade oleh S&P Dow Jones dan pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat menjadi katalis negatif bagi IHSG ke depannya. Sektor-sektor yang sensitif terhadap nilai tukar — seperti perbankan, properti, dan konsumen — perlu diwaspadai karena berpotensi tertekan oleh depresiasi rupiah dan kenaikan biaya impor.

Di sisi lain, saham-saham berorientasi ekspor (komoditas, tekstil, alas kaki) bisa diuntungkan dari pelemahan rupiah karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih bernilai dalam rupiah.

⚠️ Disclaimer

Artikel ini disusun berdasarkan data pasar yang tersedia pada saat penulisan dan bersifat informatif. Seluruh informasi yang disajikan bukan merupakan ajakan, saran, atau rekomendasi untuk melakukan transaksi jual-beli mata uang atau investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Andre Finance tidak bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul akibat penggunaan informasi ini.

Bagikan: Twitter WhatsApp

💬 Komentar

0 komentar
0/500
⏳ Memuat komentar...