Ringkasan Pergerakan Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka menguat tipis pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah sebelumnya ditutup di level Rp17.980 per USD pada Selasa (7/7/2026). Pergerakan rupiah masih dibayangi oleh sentimen global dan domestik, termasuk kekhawatiran terhadap outlook peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dan defisit neraca perdagangan.
USD/IDR — Ringkasan
Kurs Tengah BI (8 Juli): Rp17.988 per USD
Perubahan Hari (7 Jul): +15 poin (+0,08%) — rupiah menguat tipis
Pergerakan YTD: Rupiah masih terdepresiasi sekitar 3-4% sejak awal tahun 2026, dari level ~Rp17.300 menuju Rp17.980-an
Tabel Kurs Utama — 8 Juli 2026
Mata Uang Kurs Tengah BI Perubahan Harian Sentimen
USD/IDR Rp17.988 +0,08% (menguat) 🟢 Positif
EUR/IDR Rp20.552 -0,09% (melemah) 🔴 Negatif
JPY/IDR (per 100 Yen) Rp11.106 +0,14% (menguat) 🟢 Positif
SGD/IDR Rp13.917 +0,01% (stabil) 🟡 Netral
MYR/IDR Rp4.415 +0,26% (menguat) 🟢 Positif
Sumber: Bank Indonesia (kurs.web.id), Kompas.com, Bloomberg
Faktor Penggerak Rupiah Hari Ini
1. Indeks Dolar AS (DXY)
Indeks dolar AS (DXY) terpantau di level 101,01 pada sesi Asia, melemah 0,20% dalam sepekan. Data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang meleset dari ekspektasi pekan lalu masih membebani greenback, memberikan ruang bagi rupiah dan mata uang emerging market lainnya untuk rebound.
2. Sikap Hawkish The Fed
Meski DXY melemah, ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama masih membatasi penguatan rupiah. Pasar memperkirakan The Fed baru akan mulai memangkas suku bunga pada akhir Q3 2026.
3. Fitch Ratings — Sorotan ke Indonesia
Fitch Ratings memberikan peringatan terkait kerentanan indikator makroekonomi Indonesia. Perubahan outlook dari stabil menjadi negatif sejak Maret 2026 masih membayangi sentimen pasar. Cadangan devisa Indonesia diproyeksikan hanya mampu membiayai 4,9 bulan impor, sedikit di bawah median negara BBB (5 bulan).
4. Defisit Neraca Perdagangan
BPS melaporkan defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus 72 bulan beruntun. Defisit ini menjadi alarm bagi stabilitas eksternal rupiah ke depan.
5. Aliran Modal (Capital Flow)
Investor asing masih bersikap wait-and-see terhadap aset berbasis rupiah. Tekanan jual di pasar SBN dan saham masih terlihat, meski IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Data cadangan devisa yang akan dirilis pekan ini akan menjadi penentu arah aliran modal ke depan.
Dampak ke IHSG dan Saham
IHSG ditutup menguat 1,19% (+70,43 poin) ke level 5.986 pada Selasa (7/7/2026), mendekati level psikologis 6.000. Analis memprediksi IHSG berpeluang menembus 6.000 pada perdagangan hari ini dengan support di 5.986 dan resistance di 6.021.
Sektor yang diperkirakan diuntungkan dari pelemahan rupiah yang tertahan:
Sektor Ekspor (CPO, batu bara, tambang): Pendapatan dalam USD lebih tinggi saat dikonversi ke IDR
Sektor Perbankan: Potensi kenaikan NIM dari suku bunga tinggi
Sektor Konsumer: Tertekan jika inflasi impor naik akibat pelemahan rupiah
Investor disarankan mencermati rilis data cadangan devisa dan keputusan BI terkait suku bunga acuan dalam beberapa pekan ke depan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Segala keputusan investasi tetap sepenuhnya berada di tangan pembaca. Selalu lakukan riset mandiri atau konsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi. Data kurs dapat berubah sewaktu-waktu.