Berita Pasar

Update Kurs Rupiah — Senin, 13 Juli 2026: USD, EUR, JPY, SGD, MYR — Pergerakan Hari Ini

👁️ 6 dibaca

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap mata uang utama dunia kembali bergerak dinamis di awal pekan ini, Senin (13/7/2026). Berdasarkan data kurs acuan pukul 02:05 UTC, rupiah tercatat masih dalam tekanan terhadap dolar AS dan beberapa mata uang utama lainnya, seiring sentimen global yang bercampur.

Ringkasan USD/IDR

Dolar Amerika Serikat (USD) diperdagangkan di level Rp18.102 per USD, masih bertahan di kisaran tinggi. Posisi ini masih di bawah level tertinggi sepanjang tahun di Rp18.159 yang tercatat pada 8 Juni 2026 lalu.

  • Perubahan 30 hari: +0,63%
  • Perubahan YTD: +8,43% (dari Rp16.675 pada 1 Januari 2026)
  • Rata-rata 30 hari: Rp17.941,69
  • Range mingguan: Rp17.711 – Rp18.125

Tabel Kurs Mata Uang

Mata Uang Kurs (IDR) Perubahan (30h) Sentimen
USD (Dolar AS) Rp18.102 +0,63% 🟡 Bearish Rupiah
EUR (Euro) Rp20.626 -0,35% 🟢 Bullish Rupiah
JPY (Yen Jepang) Rp111,71 -0,07% 🟢 Bullish Rupiah
SGD (Dolar Singapura) Rp13.993 +0,27% 🟡 Bearish Rupiah
MYR (Ringgit Malaysia) Rp4.439 +0,61% 🟡 Bearish Rupiah

Faktor Penggerak Rupiah

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada pekan ini:

  1. DXY (Indeks Dolar AS): Indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,14, masih menunjukkan kekuatan relatif. Penguatan dolar di pasar global terus memberikan tekanan pada mata uang emerging market termasuk rupiah.

  2. Kebijakan Bank Indonesia: BI masih konsisten melakukan intervensi ganda (dual intervention) di pasar spot dan DNDF untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global. Suku bunga acuan BI diperkirakan tetap di level tinggi untuk menahan tekanan inflasi dan arus modal keluar.

  3. Inflasi: Inflasi domestik yang terjaga dan data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini menjadi perhatian utama pelaku pasar. Inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat mendorong sikap hawkish The Fed dan semakin menekan rupiah.

  4. Capital Flow: Arus modal asing masih mencatatkan volatilitas. Aliran keluar dari pasar SBN dan saham domestik masih terlihat seiring ketidakpastian suku bunga global.

  5. Ketidakpastian Geopolitik: Situasi geopolitik global dan kekhawatiran perlambatan ekonomi Tiongkok turut membebani sentimen pasar terhadap mata uang Asia.

Dampak ke IHSG dan Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam rentang 6.083–6.203 pada perdagangan hari ini, setelah ditutup menguat tipis 0,20% ke 5.942 pada akhir pekan lalu.

Pelemahan rupiah yang berkelanjutan menjadi sentimen negatif bagi emiten yang memiliki utang dolar AS dan bergantung pada impor bahan baku. Sektor yang perlu diwaspadai:

  • Saham farmasi & manufaktur — sensitif terhadap pelemahan rupiah karena tingginya kandungan impor
  • Emiten properti — tertekan oleh kenaikan biaya bahan bangunan impor
  • Sektor perbankan — berpotensi diuntungkan jika BI mempertahankan suku bunga tinggi
  • Emiten komoditas tambang — bisa diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global dalam dolar

Pergerakan Mata Uang Asia

Mata uang Asia hari ini bergerak mixed. Yen Jepang dan Euro menguat terhadap rupiah dalam 30 hari terakhir, sementara dolar Singapura dan ringgit Malaysia justru menguat. Ini mencerminkan tekanan lebih besar pada rupiah dibandingkan rata-rata mata uang regional, seiring normalisasi kebijakan moneter di negara maju.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Keputusan transaksi valuta asing dan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Lakukan riset mandiri atau konsultasi dengan financial advisor sebelum mengambil keputusan investasi. Data kurs dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.

Bagikan: Twitter WhatsApp

💬 Komentar

0 komentar
0/500
⏳ Memuat komentar...