Berita Pasar

Update Kurs Rupiah — Selasa, 21 Juli 2026: USD, EUR, JPY, SGD, MYR — Pergerakan Hari Ini

👁️ 4 dibaca

Jakarta, 21 Juli 2026 — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan Selasa (21/7/2026) setelah pada Senin ditutup turun 27 poin ke level Rp17.948 per dolar AS. Sepanjang sesi hari ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.940–Rp18.000, dengan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia terpantau di Rp17.976.

Berikut ringkasan pergerakan lima mata uang utama terhadap rupiah hari ini:

USD/IDR — Rp17.971 (▲ Tetap) Kurs dolar AS terhadap rupiah masih bertahan di level tinggi di atas Rp17.900. Perubahan harian relatif stagnan, namun secara year-to-date (YTD) rupiah telah melemah cukup signifikan terhadap greenback, tertekan oleh Indeks Dolar AS (DXY) yang perkasa dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed lebih lama.

Mata Uang Kurs (IDR) Change Hari Ini Sentimen
USD 🇺🇸 Rp17.971 ▲ 0,00% Netral — DXY stabil tinggi, The Fed hawkish
EUR 🇪🇺 Rp20.520 ▼ 0,07% Bearish — Euro tertekan data ekonomi Zona Eropa
JPY 🇯🇵 Rp111 (per 1 JPY) ▼ 0,05% Bearish — Yen masih lemah, BoJ dovish
SGD 🇸🇬 Rp13.919 ▼ 0,02% Bearish ringan — Dolar Singapura stabil turun
MYR 🇲🇾 Rp4.391 ▲ 0,00% Netral — Ringgit bergerak sideways

Faktor Penggerak Rupiah

1. Indeks Dolar AS (DXY) dan The Fed DXY masih bertahan di level kuat. Pasar berekspektasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama karena kenaikan harga energi berpotensi membuat inflasi sticky. Hal ini menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

2. Geopolitik Timur Tengah — Konflik AS-Iran Ketegangan AS-Iran kembali memanas di kawasan Teluk, meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dari Selat Hormuz. Harga minyak mentah dunia melambung, memicu kekhawatiran inflasi global dan menguatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven.

3. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia Pekan ini, pasar menanti hasil RDG BI terkait suku bunga acuan (BI Rate). BI diperkirakan akan tetap hawkish demi menjaga stabilitas rupiah, namun kenaikan suku bunga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi domestik.

4. Pertumbuhan Ekonomi Domestik PDB kuartal II/2026 diperkirakan hanya tumbuh 4,9% yoy. Konsumsi rumah tangga yang lesu dan investasi yang belum optimal menjadi kekhawatiran utama.

Dampak ke IHSG dan Saham

Pelemahan rupiah cenderung menjadi sentimen negatif bagi IHSG, terutama bagi emiten dengan utang dalam dolar AS dan yang mengandalkan impor bahan baku. Sektor perbankan dan properti bisa tertekan akibat ekspektasi suku bunga tinggi. Namun, emiten berbasis ekspor (komoditas, CPO, tekstil) justru diuntungkan dari depresiasi rupiah. Investor disarankan mencermati hasil RDG BI dan data inflasi AS pekan ini.


⚠️ Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan nasihat investasi. Seluruh data kurs bersumber dari referensi pasar dan Bank Indonesia. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Selalu lakukan riset mandiri sebelum bertransaksi.

Bagikan: Twitter WhatsApp

💬 Komentar

0 komentar
0/500
⏳ Memuat komentar...