Ringkasan Pergerakan IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan lalu dengan pelemahan signifikan. Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), IHSG ditutup melemah 1,72% ke level 5.896,13. Dalam sepekan terakhir, IHSG anjlok hingga 4,55%, mencerminkan tekanan jual yang masih dominan di pasar modal Indonesia.
Memasuki perdagangan Senin (29/6/2026) pagi, IHSG dibuka kembali melemah 5,71 poin atau 0,05% ke level 5.890,13. Sebanyak 248 saham naik, 151 saham turun, dan 231 saham stagnan pada awal sesi.
Level Support & Resistance
Berdasarkan analisis teknikal dari VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan terbatas dalam rentang:
- Support: 5.772
- Resistance: 6.040
Sementara Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memproyeksikan support di 5.850â5.730 dan resistance di 6.000â6.130. Selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang rebound teknikal masih terbuka. Namun, tren penguatan baru akan lebih terkonfirmasi apabila IHSG mampu menembus area 6.130 yang menjadi level lower high sekaligus resistance jangka pendek.
Sentimen Pasar
1. Aksi Jual Asing Masih Berlanjut
Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 3,43 triliun. Pada perdagangan Jumat (26/6) saja, net sell asing mencapai Rp 537,25 miliar. Arus keluar dana asing ini menjadi tekanan utama bagi IHSG.
2. Konflik Geopolitik AS-Iran
Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Ketidakpastian global ini memicu aksi risk-off di pasar keuangan global dan berdampak negatif pada pasar saham Indonesia.
3. Pelemahan Rupiah
Nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.869 per USD atau melemah 0,37%. Pelemahan rupiah turut membebani IHSG dan mengurangi minat investor asing.
4. Harga Emas Terkoreksi
Harga emas Antam hari ini turun Rp 15.000 menjadi Rp 2.645.000 per gram (-0,56%), mengindikasikan tekanan di pasar komoditas.
5. Sentimen Domestik
Pemerintah menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga Rp 400 triliun di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang berpotensi menjaga likuiditas dan penyaluran kredit. Pasar juga menantikan rilis data inflasi Juni 2026 yang diperkirakan mencapai 3,1% year on year (yoy). Jika inflasi tetap terkendali, hal ini akan menjadi katalis positif bagi IHSG.
6. Efek MSCI
Keputusan MSCI serta tingginya suku bunga acuan BI turut membatasi minat beli investor di pasar domestik.
Sektor Penggerak (Pagi Ini, 29/6)
Sektor Menguat:
- Energi: +0,34%
- Keuangan: +0,30%
- Kesehatan: +0,06%
Sektor Melemah:
- Transportasi: -0,81%
- Barang Konsumen Non Siklikal: -0,30%
- Infrastruktur: -0,20%
Top Gainers & Losers LQ45 (Pagi Ini)
Top Gainers: ANTM (+1,86%), MDKA (+1,86%), MEDC (+1,42%)
Top Losers: ESSA (-5,45%), PGAS (-4,61%), AKRA (-3,54%)
Rekomendasi Saham Hari Ini â Senin, 29 Juni 2026
Berikut adalah rekomendasi saham untuk strategi Day Trade dan Long Term berdasarkan analisis teknikal dan fundamental terkini:
đ Day Trade (5 Saham)
| Tipe | Saham | Entry | TP | SL | Alasan |
|---|---|---|---|---|---|
| Day Trade | BBCA | 5.800â5.900 | 6.200 | 5.700 | Speculative buy â support kuat di Rp5.800, sektor keuangan jadi penggerak utama IHSG. Volume tinggi dan likuiditas besar cocok untuk trading jangka pendek. |
| Day Trade | BMRI | 3.880â3.950 | 4.150 | 3.820 | Speculative buy â bank BUMN dengan fundamental solid. Support di Rp3.880 mampu menahan pelemahan. Sektor perbankan jadi andalan saat IHSG konsolidasi. |
| Day Trade | ANTM | 1.580â1.620 | 1.720 | 1.540 | Top gainer pagi ini (+1,86%). Sentimen positif dari potensi pemulihan harga nikel. Volume tinggi menandakan minat beli masih kuat. Cocok untuk trading jangka pendek. |
| Day Trade | MDKA | 2.400â2.460 | 2.600 | 2.350 | Top gainer bersama ANTM. Terkerek kenaikan harga emas global. Momentum positif dengan volume transaksi yang meningkat. |
| Day Trade | MEDC | 1.350â1.390 | 1.480 | 1.310 | Top gainer LQ45 (+1,42%). Sektor energi sedang menguat (+0,34%). Sentimen kenaikan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah. |
đ Long Term (5 Saham)
| Tipe | Saham | Entry | TP | SL | Alasan |
|---|---|---|---|---|---|
| Long Term | BBCA | 5.800â6.000 | 7.000 | 5.500 | Fundamental kuat sebagai bank swasta terbesar di Indonesia. Kinerja laba konsisten, dividen menarik. Akumulasi di level support untuk jangka panjang. |
| Long Term | BBRI | 2.770â2.900 | 3.500 | 2.600 | Bank BUMN dengan penetrasi kredit UMKM terluas. Valuasi sedang murah setelah koreksi. Prospek dari penempatan dana SAL Rp400 triliun di Himbara. |
| Long Term | KLBF | 1.100â1.160 | 1.400 | 1.050 | Sektor kesehatan defensif. Rekomendasi analis BRI Danareksa. Kinerja stabil di tengah volatilitas pasar, cocok sebagai portofolio lindung nilai. |
| Long Term | MBMA | 1.300â1.380 | 1.700 | 1.200 | Emiten nikel dengan prospek jangka panjang terkait ekosistem kendaraan listrik. Valuasi menarik setelah koreksi. Potensi kenaikan signifikan seiring pemulihan harga nikel. |
| Long Term | TLKM | 2.800â2.900 | 3.400 | 2.650 | Emiten telekomunikasi defensif dengan dividen tinggi. Bisnis data terus tumbuh. Arus kas kuat. Cocok untuk investasi jangka panjang dengan risiko rendah. |
Analisis Singkat
BBCA: Bank Central Asia masih menjadi primadona investor. Dengan kapitalisasi pasar terbesar dan rasio kredit macet yang rendah, BBCA memberikan kestabilan di tengah gejolak pasar. Support Rp5.800 menjadi level akumulasi yang menarik.
BMRI & BBRI: Kedua bank BUMN ini diuntungkan oleh kebijakan pemerintah menempatkan dana SAL Rp400 triliun di Himbara. Likuiditas yang terjaga berpotensi mendorong ekspansi kredit dan meningkatkan pendapatan bunga bersih.
ANTM & MDKA: Emiten tambang logam ini bergerak seirama dengan harga komoditas global. Nikel dan emas masih memiliki prospek cerah di semester II 2026 seiring permintaan dari sektor energi hijau dan lindung nilai inflasi.
KLBF: Saham sektor kesehatan defensif yang cocok untuk menghadapi volatilitas. Kinerja penjualan yang stabil dan ekspansi produk baru mendukung pertumbuhan jangka panjang.
MEDC: Terkerek kenaikan harga minyak global akibat ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz. Volatilitas harga minyak memberikan peluang trading jangka pendek yang menarik.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Andre Finance tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi berdasarkan artikel ini. Selalu lakukan analisis mandiri (due diligence) dan konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum berinvestasi.
â Andre Finance